Sabtu, 03 Mei 2014

Tawasul dalam Menghadapi Permainan


TAWASUL
PENGERTIAN TAWASUL
Tawassul berasal dari perkataan Arab وسيلة (wasiilah: perantara).  Yakni menjadikan sesuatu sebagai perantara di dalam kita berdoa. Kita tetap meminta dari pada Allah, tetapi kita meletakkan perantara di tengah.
Menurut DR.K.H.M.A.Sahal Mahfudh, Tawassul berasal dari kata wasala-waslan- wasilatan atau tawassulan yang berarti sesuatu ( sebagai wasilah atau perantara ) untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Pengertian seperti yang ada dalam Al- Qur'an:
"Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya " ( Q.S.al Maidah :35).       
         Jadi tawassul atau perantara adalah mengerjakan sesuatu ( apa saja ) dengan maksud  mendekatkan diri kepada Alloh.
        Arti Tawassul dan Wasilah adalah:
اَلتَّوَسُّلُ  لُغَةً اَلتَّقَرُّبُ وَالْوَسِيْلَةُ كُلُّ مَا يَتَوَسَّلُ بِهِ اِلَى الْمَقْصُوْدِ 
“ Tawassul menurut bahasa adalah  mendekatkan diri, sedang arti wasilah adalah apa saja yang digunakan sebagai perantara atau alat mencapai tujuan”
        Imam Jalaluddin Al – Suyuthi dalam kitab Al – Itqan fi Ulumi  al Qur’an menjelaskan, bahwa Ibnu Abbas r.a  ketika ditanya tentang arti wasilah, beliau menjawab:
اَلْوَسِيْلَةُ اَلْحَاجَةُ 
“ Wasilah adalah kebutuhn”
Menurut Drs.Imron AM, wasilah menurut arti bahasa: jalan, sebab yang mendekatkan kepada yang lain.
         Kemudian makna wasilah seperti yang tercantum dalam firman Alloh SWT :
" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya,        

 Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah menafsirkan ayat diatas sebagai berikut;
فَابْتِغَاءُ الْوَسِيْلَةُ اِلَى الله اِنَّمَا يَكُوْنُ لِمَنْ تَوَسَّلَ اِلَى الله بِاْلاِيْمَانِ بِمُحَمَّدٍ وَاِتِّبَاعِهِ
Makna mencari wasilah kepada Alloh, sebenarnya adalah bagi orang yang menggunakan perantara ( jalan ) kepada Alloh dengan beriman kepada Muhammad SAW dan mengikutinya'
         Jadi makna wasilah diatas, menurut beliau adalah: ' beriman kepada Muhammad dan mengikutinya, karena itulah yang akan mengantarkan manusia kepada Alloh, serta mengantarkannya ke surga-nya di akhirat nanti.
    Selanjutnya beliau menjelaskan;
    '' Dan tawassul ( berperantara ) kepada Alloh, dengan iman dan taat kepadanya (Muhammad) itu adalah merupakan kewajiban (fardlu)  bagi setiap Muslim dalam segala keadaannya, lahir dan batin, baik semasa hidupnya ( Nabi )  atau sesudah meninggalnya. Demikian juga baik dalam penglihatanya atau tidak. Dan tawasul dengan iman dan thaat kepdanya ini tidak dapat gugur dari seseorang dalam segala keadaanya, sesudah tegaknya hujjah, dan tidak dibenrkan beralasan apapun  ( untuk meninggalkan tawasul semacam ini )
           Selanjutnya beliau menyatakan:
وَلَفْظُ التَّوَسُّلِ فِى عُرْفِ الصَّحَابَةِ كَانُوْا يَسْتَعْمِلُوْنَهُ فِى هَذِهِ اْلمَعْنى
" Dan lafazh tawasul dlam urf ( kebiasaan ) shahabat yang mereka pergunakan adalah seperti makna tersebut" 
  Dari berbagai definisi diatas, dapat diambil pengertian, bahwa tawassul atau wasilah adalah mengerjakan sesuatu apa saja, baik ucapan ataupun perbuatan yang menjadi sarana, perantara, kebutuhan, atau sebab  dengan landasan aqidah yang bersih dan lurus untuk  mendekakan diri kepada Alloh  SWT.
DALIL TAWASUL
Adapun dalil-dalil yang menunjukkan diperbolehkan bertawassul dalam berdo’a diantaranya adalah :
  1. QS. Al Maidah : 35
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah sebuah perantara untuk menuju kepada Alloh, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” 
Dalam ayat diatas Allah memerintahkan untuk mencari wasilah (perantara) dalam mendekatkan diri kepada Allah, baik perantara tersebut berupa amal sholih, atau orang-orang yang dicintai Allah.
  1. QS, Al A’roof : 180
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
Dan Alloh memiliki Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaaul Husna. 
            Dalam ayat diatas Allah mengajarkan kepada kita untuk menjadikanAsmaa’ul Husna sebagai penghantar (wasilah) do’a kita. Dan tentunya masih banyak ayat-ayat lain yang mengindikasikan diperkenankannya tawasul dalam berdo’a.
  1. QS, Al Baqoroh : 45
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat.Dan sesungguhnya (sholat) itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. 
            Dalam ayat diatas Allah mengajarkan kepada kita untuk menjadikan sholat dan sabar sebagai penghantar (wasilah) do’a agar terkabul keinginan  kita. Sebagian ahli tafsir menjelaskan tentang Sabar yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah berpuasa (tirakat). Ayat tersebut menunjukkan anjuran untuk bertawassul dengan perantara amal sholih.
  1.  QS, Al Baqoroh : 89
وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْكَافِرِينَ
Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, Padahal sebelumnya mereka biasa memohon kemenangan atas orang-orang kafir, Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. 
  1.  QS, An Nisaa : 64
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّاباً رَّحِيماً
Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
  1. Dan masih banyak lagi dalil dalil yang berkaitan dengan tawasul.
MACAM-MACAM TAWASUL
  1. Tawasul yang di perbolehkan
Tawasul yang di perbolehkan ini biasa disebut tawasul “Masyru” yang di syari’at kan atau Tawassul yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul adalah berdalilkan hadis-hadis Nabi tentang bagaimana baginda mengajarkan kepada kita cara bertawassul.
  1. Bertawassul dengan menggunakan nama-nama Allah  Firman Allah. Dalilnya  di dalam Al-Quran surat Al-A’raf: 180
  2.  bertawassul dengan doa orang saleh yang masih hidup. yaitu berjumpa dengan orang-orang saleh yang amal ibadatnya bertepatan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, para ulama dan siapa saja orang saleh yang masih hidup dan meminta orang yang shaleh itu mendoakan untuk kita. Dalilnya dalam hadits nabi yang mana beliau menyuruh kepada sayidina umar untuk menemui sahabat Uwais Al-Qorni. Lihat kitab shahih Bukhori.
  3. Bertawassul dengan amalan saleh. yaitu bertawassul dengan amalan saleh yang pernah kita lakukan. Hadis yang selalu dijadikan contoh adalah hadis tiga orang lelaki yang terperangkap di dalam gua. Seorang berdoa kepada Allah dengan mengatakan bahawa dia telah taat kepada ibu bapanya, seorang lagi mengatakan dia hampir berzina tetapi dia tinggalkan zina kerana takutkan azab Allah, orang yang ketiga pula berdoa dengan menyebut bahawa dia orang yang amanah, memegang amanah yang diberikan kepadanya dan mengembalikan kepada pemiliknya. Maka dengan amalan saleh itu mereka berdoa kepada Allah agar dibukakan pintu gua yang tertutup sehingga memerangkap mereka di dalamnya.
Ketika orang pertama berdoa, batu yang menutupi gua itu terbuka sedikit, sehinggalah cukup doa ketiga-tiga mereka, barulah batu itu berbuka sehingga mereka dapat keluar dari padanya. (lihat Sahih Bukhari)
  1. Tawasul yang tidak di perbolehkan
Adapun tawassul yang tidak di perbolehkan atau tidak di syari’atkan oleh Allah dan Rosulnya itu ada banyak. Antaranya meminta daripada berhala, binatang, memuja makhluk, keterlaluan dalam meminta kepada makhluk sehingga lupa kepada Allah SWT, meminta kepada makhluk dan percaya bahawa makhluk tersebut mengabulkan permintaannya, dan tidak meminta kepada Allah.
Begitu juga bertawassul dengan orang yang telah mati yang telah dibincang panjang oleh ahli ilmu. Seruan kepada orang mati, seruan kepada Nabi Muhammad sedangkan baginda telah wafat. Mereka berdalilkan dengan peristiwa-peristiwa di mana kesemuanya adalah dari pada hadis-hadis dha’if dan tidak membawa pengertian bahawasanya Nabi bertawassul dengan Nabi-nabi yang telah wafat sebelumnya. Tidak ada pendalilan dan penghujahannya.
Hal ini dijelaskan oleh para ulama. Ada satu kitab berkaitan dengan tawassul yaitu Al-Tawassul Baina Masyru’i wal Mamnu’ (Tawassul antara yang disyariatkan dan yang dilarang) yang ditulis oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari.
Salam Semangat (Rizqy)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design